Deretan pahlawan berkalung emas

67

Tidak banyak profesi yang bisa mengibarkan bendera merah putih di negara lain. Satu dari sekian profesi itu adalah atlet. Mereka berjuang penuh keringat agar sang saka merah putih berkibar di tiang tertinggi.

Ajang olahraga seperti Asian Games boleh dibilang sebagai medium sang atlet mengharumkan nama Indonesia. Tidak mudah, karena yang dilawan juga orang-orang hebat di kawasan Asia.

Berikut deretan pahlawan berkalung emas (lebih dari 1 emas) yang mampu mengibarkan merah putih di level Asian Games.

Taufik Hidayat (Bulutangkis)

Taufik termasuk pebulutangkis terbaik yang dimiliki Indonesia di akhir 90 an dan awal 2000. Pria kelahiran Bandung, 10 Agustus 1981 ini mampu meraih medali emas pada tiga penyelenggaraan Asian Games.

Pertama ia meraih emas kategori beregu putra di Asian Games Bangkok tahun 1998. Empat tahun kemudian di Busan, ia dapat emas tunggal putra. Hebatnya, emas itu ia pertahankan di Asian Games Doha, Qatar 2006.

Christian Hadinata (Bulutangkis)

Pemain bulu tangkis Indonesia di era 1970-an hingga 1980-an ini sekarang berkarier sebagai pelatih dan pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia.

Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 11 Desember 1949 ini menjadi pahlawan kebanggan Indonesia di pentas Asian Games. Secara total, Christian dapat 9 medali Asian Games (periode 1974 – 1986).

Perincian medalinya adalah 5 emas (2 di ganda putra, 2 di ganda campuran, dan 1 beregu putra), 2 perak  dan 2 perunggu.

Rexy Mainaky dan Ricky Subagja (Bulutangkis)

Rexy dan Ricky merupakah salah satu ganda putra terbaik yang dimiliki Indonesia di era 90 an. Prestasi tertingginya meraih emas Olimpiade Atlanta, AS 1996.

Di Asian Games, pasangan ini meraih 2 emas, yaitu saat digelar di Hiroshima, Jepang 1994 dan Bangkok, Thailand 1998. Bahkan mereka ikut menambah emas untuk kategori beregu putra di Hiroshima dan Bangkok.

Hendra Setiawan (Bulutangkis)

Hendra Setiawan lahir di Pemalang, Jawa Tengah, 25 Agustus 1984. Ia mengawali kariernya berpasangan dengan Markis Kido (dan Mohammad Ahsan) serta pernah menduduki peringkat ke-2 dunia IBF untuk ganda putra.

Hendra juga pebulutangkis yang bisa meraih lebih dari 1 emas di Asian Games. Pertama saat berpasangan dengan Markis Kido, ia meraih emas di Asian Games Guangzhou, China 2010. Lalu empat tahun kemudian di Incheon, Korea, kembali ia dapat emas berpasangan dengan Mohammad Ahsan.

Retno Koestijah dan Minarni (Bulutangkis)

Perempuan kelahiran Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah ini seorang pemain bulu tangkis Indonesia di era tahun 1960-an sampai 1970-an.

Di pentas Asian Games, Retno bersama Minarni merupakan ganda putri pertama dan satu-satunya yang meraih 2 medali emas. Pertama pasangan ini merebutnya di Asian Games 1962 di Jakarta. Lalu di Asian Games Bangkok, Thailand 1966, pasangan ini kembali menambah emas untuk Indonesia.

Khusus Minarni, ia menambah emas di kategori tunggal putri di Asian Games 1962.

Lita Sugiarto (Petenis)

Lita Liem Sugiarti atau biasa dikenal dengan Lita Liem adalah seorang pemain tennis profesional. Ia lahir pada 27 Februari 1946. Lita bermain di ajang Grand Slam antara tahun 1968 dan 1875, baik sebagai tunggal, ganda campuran maupun ganda putri.

Lita memenangkan 4 medali pada Asian Games, yakni berupa 2 medali emas dan 2 medali perunggu. Lita mendapatkan medali emas pada kategori tunggal di Asian Games Bangkok 1966 dan Asian Games Teheran 1974.

Sedangkan untuk medali perunggu, ia mendapatkan keduanya pada Asian Games di Bangkok 1966 (wanita tunggal dan wanita ganda).

Justedjo Tarik (Petenis)

Justedjo Tarik lahir pada 30 Agustus 1953. Ia selalu bangga menjadi anak Sentiong, sebuah kawasan di daerak Kramat Jakarta Pusat. Anak sentiong inilah yang sudah berkali – kali mengibarkan Merah Putih di arena paling bergengsi di Benua Asia. Medali yang ia dapatkan selama Asian Games adalah medali emas, yaitu pada Asian Games 1982 (Pria tunggal) dan Asian Games 1978 (Pria ganda).

Suzanna Wibowo (Petenis)

Suzanna Wibowo atau Suzanna Anggarkusuma adalah mantan pemain tenis profesional dari Indonesia. Ia lahir pada 25 November 1963. Suzanna pertama kali mewakili Indonesia di ajang Piala Fed pada tahun 1981.

Ia membuat debutnya sebagai seorang profesional pada Juli 1986, saat berusia 22 dalam kompetisi ganda ITF turnamen di Brindisi, Italia, di mana Suzanna dan pasangannya, Yayuk Basuki memenangkan turnamen tersebut.

Dia memainkan turnamen terakhirnya pada bulan Juni 2006 di New Delhi pada usia 43. Suzanna memenangkan 4 medali di Asian Games di antaranya adalah 2 medali emas dan 2 medali perunggu.

Pada Asian Games Seoul 1986, ia memenangkan medali emas (wanita ganda – bersama Yayuk Basuki) dan perunggu (campuran ganda – bersama Tintus Wibowo). Begitu juga dengan Asian Games Beijing 1990, kembali ia dapat emas bersama Yayuk Basuki dan perunggu dengan Bonit Wiryawan.

Mohammad Sarengat (Atlet Atletik)

Mohammad Sarengat ahir di Banyumas, 28 Oktober 1939 dan meninggal di Jakarta, 13 Oktober 2014 pada umur 74 tahun.

Sarengat mengharumkan nama Indonesia pada Asian Games 1962 di Jakarta dengan meraih dua medali emas dari cabang atletik nomor lari 100 meter dan 110 meter lari gawang putra.

Ia sekaligus mencetak rekor Asia untuk lari 100 meter dengan catatan 10,5 detik. Rekor itu baru pecah 25 tahun kemudian oleh Purnomo dengan waktu 10,3 detik.

Oka Sulaksana (Atlet Peselancar Angin)

I Gusti Made Oka Sulaksana lahir di Sanur, 29 April 1971. Ia dua kali meraih medali emas pada Asian Games, masing-masing Asian Games 1998 dan 2002. Spesialisasinya adalah di nomor mistral.

Ia pembawa bendera Indonesia pada upacara pembukaan Olimpiade Beijing 2008. Ia juga pernah tampil di Olimpiade Atlanta 1996, Olimpiade Sydney 2000 dan Athena 2004.

Yayuk Basuki (Petenis)

Perempuan kelahiran Yogyakarta, 30 November 1970 ini merupakan legenda hidup tenis Indonesia. Selama berkarier di jalur tenis profesional, Yayuk sudah meraih 9 gelar WTA Tour Final dan 25 ITF.

Di pentas Asian Games, Yayuk pernah meraih medali emas di Seoul 1986 (Ganda putri bersama Suzana Wibowo), Beijing 1990 (Ganda campuran bersama Hary Suharyadi dan ganda putri bersama Suzana Wibowo), dan Bangkok 1998 (Tunggal). [teks Anindtya Aprilia | foto berbagai sumber]

Share it