Danny Oei Wirianto: Bisnis tidak harus langsung jadi unicorn

45

The Captain pada (2/2) yang dibawakan oleh Ferdy Hasan, kedatangan seorang narasumber yaitu CMO GDP Venture, Danny Oei Wirianto.

Pada segmen ini, mereka membahas mengenai venture builder.

Q: Sedang sibuk apa di awal tahun ini?

A: Sedang sibuk reporting, lalu sedang membereskan portfolio, fokus pada apa yang perlu dibenerin dan distandarisasi lagi. Kami juga mau merencanakan lagi market yang akan dipenetrasi.

Q: Bisa ceritakan sedikit mengenai portfolio GDP Venture?

A: Awalnya itu diciptakan oleh Martin Hartono dan Kusuma Hartanto pada 2010. Lalu di tahun 2011, mulai bangun blibli.com.

GDP Venture adalah venture builder. Kami menyimpan uang di orang lain, kadang-kadang orang lain menyimpan uang di kita untuk dibangun. Akuisisi yang sudah dilakukan yaitu kaskus.co.id. So far sudah banyak kami berinvestasi.

Q: Apa bedanya venture builder dengan venture capital?

A: Kalau capital itu hanya invest dalam start up, dan hanya menyimpan uang lalu dimonitor saja. Kalau builder itu co-invest atau betul-betul build sendiri.

Q: 2-3 tahun ini belakangan start up e-commerce sangat berkembang. Apa tantangannya sebagai builder?

A: Tantangannya itu dalam founder talent, karena talent sekarang itu sangat bervariasi. Ada yang jago, ada yang standar. Kalau mau membangun, yang penting ada talent yang baik dan cukup. Jumlahnya banyak, jadi suka rebutan juga dengan perusahaan lain.

Q: Talent biasanya didapat dari mana saja?

A: Maunya sih orang Indonesia saja, untuk empower negara kita juga. Paling tidak, orang Indonesia yang pernah kerja di luar negeri. Biar tidak ketergantungan sama negara luar terus.

Q: Bagaimana pendapat Anda dengan talent Indonesia?

A: Orang Indonesia itu masih sangat kalah disiplin sama talent luar. Kalau orang luar itu lebih proactive, solving problem-nya bagus, inisiatif dll.

Mereka pandai mengatur waktu agar tidak lembur. Lembur itu ‘kan tidak efisien. Badan dan pikiran sudah lelah dan tidak efektif, tapi masih suka ada yang mengejar uang lembur.

Di segmen berikutnya mereka membahas mengenai ekosistem Indonesia.