Plesiran Tempo Dulu ala Sahabat Museum

8

Bangga sebagai warga Negara Indonesia, salah satunya bisa kita wujudkan dengan mengetahui sejarah bangsa, Brava Listeners. Kita bisa mengunjungi museum-museum yang ada di Indonesia.

Dalam Travel Talk kali ini bersama Christian Rahadiansyah berbincang-bincang dengan pecinta sejarah sekaligus pendiri Sahabat Museum, Ade Purnama.

Sahabat Museum atau dikenal juga dengan Batmus memiliki dua kegiatan yang masih berjalan sampai sekarang. Ada Plesiran Tempo Dulu dan Pindah Tongkrongan (Pintong).

Biasanya, kegiatan Plesiran Tempo Dulu adalah sebagai acara yang well-prepared, mulai dari tujuannya, kapan acara itu akan diadakan, serta situs sejarah apa saja yang akan dikunjungi. Tim Batmus pun sampai melakukan survey ke berbagai tempat untuk bisa menyajikan wisata sejarah yang berkualitas untuk para pengikutnya nanti.

“Untuk tujuannya sih biasanya kita mengadakan polling kepada para peserta, atau biasanya juga ada yang minta untuk berkunjung ke satu situs sejarah. Bahkan kita sering mendapat inspirasi dari majalah traveling, koran, juga program-program tv.”

Sedangkan, Pintong lebih seperti program santainya Batmus. Biasanya diadakan secara mendadak mengunjungi situs bersejarah, namun Batmus tetap mengupayakan untuk menghadirkan seorang narasumber agar semakin enak untuk menceritakan tentang sejarahnya.

Batmus yang bisa dikatakan seperti penyedia jasa pariwisata, khususnya dalam bidang wisata sejarah, memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan jasa pariwisata lainnya. Batmus selalu mengedepankan bobot pengetahuan yang diberikan kepada peserta. Untuk mengurus orang yang memiliki selera berbeda-beda saat sedang wisata sejarah, pihak Batmus selalu membuat semuanya menjadi satu komando.

Menurut Ade sendiri, permasalahan museum yang ada di Indonesia itu berawal dari cara mengemasnya. Cara display yang kurang menarik, tata cahaya yang kurang baik, serta informasi yang diberikan masih kurang, jadi membuat museum itu terkesan muram. Sehingga masyarakat Indonesia memiliki mindset bahwa museum itu sebagai sesuatu yang kuno.

“Andai saja cara mengemas serta menggiring masyarakatnya lebih mengasikkan, pasti masyarakat Indonesia akan lebih tertarik untuk mengunjungi museum.”

Brava Listeners, terus dengarkan Brava Radio melalui streaming di sini atau download melalui iOS dan Google Play Store.

[teks Adhi Satria | foto flickr.com]

Baca juga:
Melihat lebih dekat: Louis Vuitton Horizon Tambour
Gigi bungsu tumbuh di usia dewasa, apakah normal?
Yang harus dilakukan saat nyeri punggung