Shanti Rosa Persada: Love Pink ada untuk kita semua

20

Berdasarkan data statistik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), persentase penderita kanker payudara di dunia terus meningkat setiap tahunnya.

 

Ferdy Hasan berbincang dengan Shanti Rosa Persada, Founder dari Love Pink dalam The Captain.

Q : Bisa Anda ceritakan bagaimana Anda mendirikan Lovepink?

A : Sebenarnya saya disini mewakili Madelina Mutia (partner di Lovepink) dan Samantha Barbara. Kita The Captains pake S, plural. Jadi 2010 itu Maret saya terdiagnosa, bulan Mei saya dikenalkan mutual friend kita dengan Madelina Mutia.

Setelah dikenalkan dengan Muti, saya merasa menjalani treatment ini jauh lebih ringan karena punya teman untuk bercerita setiap hari, dan berbagi informasi. Kebetulan treatment Muti itu dioperasi dulu, baru chemotherapy.

Kalau saya kebalikannya. Jadi kita saling berbagi informasi, kita jadi merasakan luar biasanya ketika bertemu dengan teman sesama yang sedang treatment. Mulai saat itu, kita berjumpa dengan teman-teman lain yang merekomendasi temannya yang terdiagnosa ke kita. Dan ini berjalan terus sampe 2013, kita bertemu Samantha Barbara.

Jadi 2013 Mei itu, Samantha terdiagnosa. Bulan Oktober, kita membuat suatu gerakan yang cukup besar karena dihitung-hitung Oktober 2013 itu aku dan Muti sudah bertemu 50-an perempuan yang terdiagnosa. Samantha bilang ‘kenapa kita nggak olahraga sama-sama? kita belum pernah ketemu dengan 50 orang itu kecuali di group chatting?

Akhirnya kita mengadakan CFD pagi-pagi, kita undang 50 orang itu. Tapi ternyata yang datang itu 700 orang, jadi 1 orang membawa 15 supporter. Kita jadi berpikir banyak sekali orang yang ingin kita sehat, dari situ kita semangat terus sampai hari ini. Mungkin sudah hampir seribu survivor yang kita support mentalnya.

Q : Dalam memperingati bulan kanker, Pink Run juga baru dilakukan dan juga Fun Walk di Nusa Dua, Bali. Boleh ceritakan tentang event tersebut?

A : Seru banget, challenging tapi seru. Sesuatu yang challenging itu kan kalau kita berhasil jadi seru ya. Sama kaya kanker, begitu kita jalani itu luar biasa ya.

Jadi si Bali ini memang kita baru pertama kali, dari 2013-2015 kita di Jakarta saja, Jakarta Goes Pink. Tahun ini memang tahun kita untuk berpikir partnership dengan yayasan lain yang bergerak di bidang yang sama, akhirnya kita bertemu dengan yayasan yang lain, tiga yayasan lain dan kita mengadakannya di Bali, karena kita ingin exposenya lebih besar dari media luar dan media dalam dan juga dari pesertanya.

Jadi ada dua hari di sana, satu hari pertama tanggal 7 Oktober itu workshop untuk survivor, kita mengundang seribu survivor dari seluruh Indonesia, yang datang hampir 600 orang itu juga udah syukur Alhamdulillah.

Ada kelas bersama Anjasmara, Marini Zumarnis, Diah Permatasari, dan Alya Rohali. Jadi ibu-ibu di daerah kan senang sekali ya bertemu dengan survivor ada dari Bali, Jakarta, Surabaya, Makasar, dll.

Empat kelas workshop itu ramai sekali, nah malemnya kita gala dinner. Di gala dinner itu kita membuat tema ‘Thousand Voices of Survivor’s Celebrating Life’, jadi kita mendengarkan suara mereka dari luar kota itu, bagaimana sih mereka menjalani treatment-nya, apakah mereka puas dengan pelayanan medisnya, dll.

Selain itu, thousand voices kita celebrating life jadi bersyukur kita masih berada sama-sama di sini, bisa berbagi dan men-support orang-orang yang baru terdiagnosa. Hari keduanya baru kita Fun Walk.

Q : Sebagai salah satu survivor dan saat bangkit ini tentunya terus semangat dan optimis, kuncinya adalah berpikir positif. Tapi mungkin Anda bisa menceritakan pengalaman mulai dari awal terdeteksi?

A : Pertama terdiagnosa itu Maret 2010. Lalu Mei bertemu Muti, menjalani bersama-sama 2011 pertengahan selesai, 20 kali chemotherapy. Kemudian Agustus 2010 diangkat payudara sebelah kanan. Di Oktober 2010 itu 25 kali diradiasi, lalu selesai. Setelah itu mulai aktif banget membantu teman-teman lain, berbagi, sharing.

Dari sharing itu aku merasa kok lebih semangat ya, lebih ada energi baru, ini lembaran hidup baru jadi Tuhan memberikan kesempatan kedua ini ternyata untuk orang lain bukan untuk saya sendiri, khususnya perempuan di Indonesia.

Jadi 2011 selesai itu sampai 2013, saya bersama Muti bertemu Samantha Barbara akhirnya itu menjadi turning point kita untuk menjadi lebih besar gerakannya. Kita mempunyai visi untuk membantu menekan angka kanker payudara stadium lanjut, dan misi kita adalah memberi pendampingan pada perempuan yang terdiagnosis kanker payudara melalui journey treatment mereka, dan kemudian kampanye deteksi dini kanker payudara.

Q : Bagaimana kondisi diluar Jawa?

A : Memprihatinkan, jadi orang Aceh kalo dia mau radiotherapy harus ke Medan. Berarti dia harus tinggal di Medan karena radiotherapy minimal 25 kali setiap hari, berarti mereka harus tinggal dan ditemani oleh keluarga. Berapa biayanya?

Q : Berapa satu kali biaya radiotherapy?

A : Biasanya itu paket, 25 kali itu sekitar 50 juta. Nah itu baru alat radiology, belum dokter onkologi, kita cuma punya 140 dokter onkologi untuk 250 juta penduduk. Jadi kalau ada mahasiswa kedokteran yang mendengarkan Brava pagi ini, tolong ambil jurusan onkologi. Memang susah, tapi pahalanya banyak.

Q : Kalau melihat dari gejala, seperti apa awalnya dan bagaimana mendeteksinya?

A : Aku merasa payudara kanan aku memang ada perubahan gitu, agak keras tapi aku rasa mungkin ini mau menstruasi atau perubahan hormon pada wanita. Jadi Oktober 2009 itu saya sebenarnya sudah ke dokter onkologi, saya tanya ini kenapa, dan dia bilang ini hanya hormonal dan waktu menyusui berat di sebelah kiri, dan itu benar adanya.

Jadi disitu aku merasa tenang ya Oktober 2009, nah tapi makin lama kok rasanya makin bengkak dan kalo kesenggol aja tuh sakit tapi gak ada benjolan, ketika pakai bra gitu, kena tas aja itu sakit.

Bulan Maret itu aku ke dokter, tapi saya masih belum sadar apa-apa. Payudara saya sudah berubah tekstur kulitnya seperti kulit jeruk, sama nipple-nya masuk ke dalem, tapi saya masih belum mengira apa-apa.

Saat dokternya melihat, belum di-USG, dokter langsung kaget dan bilang ‘wah ini kanker ganas dan stadiumnya sudah lanjut, kamu harus segera di biopsy’. Akhirnya aku jalani semualah biopsy dan lain-lain.

Q : Jika ada Brava Listeners yang ingin mendapatkan informasi konsultasi atau sudah terdiagnosa ingin berbincang dengan Love Pink, kemana mereka bisa menghubungi?

A : Silahkan ke www.lovepinkindonesia.org atau email ke kami hello@lovepinkindonesia.org. Di sana ada nomor kontak, kontak saya juga ada di sana, silahkan kalau lebih enak langsung Whatsapp silahkan.

Q : Apa pesan yang ingin Anda berikan kepada mereka yang terdiagnosa kanker payudara?

A : Buat yang terdiagnosa tentunya semangat terus, kanker hanya sebagian dari hidup kita, hidup yang lain tetap harus berjalan dengan baik. Seorang ibu, kalau ibu yang sakit, otomatis family itu drop ya, berbeda dengan bapak. Jadi ibu tetap harus semangat.

Love Pink ada untuk kita semua apa pun, mau curhat mau ngobrol, stress apa pun itu mau teriak silahkan. Buat teman-teman yang terdiagnosa, kita ada bersama-sama.

Sesuatu yang berat itu dilalui bersama-sama jadi jauh lebih ringan. Buat yang belum terdiagnosa, sadari, periksa payudara sendiri. Tidak mengerti caranya? Download Love Pink Breasties, di sana lengkap caranya.

[teks Ghesilia Gianty, Brava Listeners dari Universitas Multimedia Nusantara | foto dok. @bravaradio]

Baca juga:
Produk terbaik Martell untuk sajian akhir tahun
Aksesori baru dalam koleksi Longchamp Le Pliage Cuir
Gran Mahakam ciptakan tema spesial Natal dan tahun baru