Di dunia horologi, ada momen-momen langka yang terasa seperti penanda perubahan arah, bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi titik di mana standar baru mulai terbentuk. Watches and Wonders Geneva 2026 adalah salah satu momen itu. Ajang ini memang selalu jadi tempat berkumpulnya puluhan brand jam tangan ternama dari seluruh dunia, tapi lebih dari itu, di sinilah ide-ide segar diuji, inovasi dipertontonkan, dan masa depan industri perlahan mulai terlihat.
Tahun ini, perhatian banyak orang tertuju pada Grand Seiko. Menariknya, mereka tidak datang hanya untuk “memperkenalkan produk baru” seperti kebanyakan brand lain. Ada pendekatan yang terasa lebih personal. Lewat setiap detail dari tekstur dial, permainan cahaya, hingga presisi movement, Grand Seiko seperti sedang menyampaikan cerita yang lebih dalam. Cerita tentang hubungan manusia dengan waktu, tentang keindahan alam Jepang yang sering luput dari perhatian, dan tentang filosofi hidup yang tenang namun penuh makna.
Alih-alih berusaha tampil mencolok, Grand Seiko justru memilih jalur yang lebih halus. Mereka mengajak kita untuk memperlambat, melihat lebih dekat, dan benar-benar merasakan apa yang ada di balik sebuah jam tangan. Dan mungkin, justru di situlah kekuatannya.
Setiap tahunnya, Watches and Wonders Geneva yang digelar di Geneva selalu menjadi panggung besar bagi dunia horologi, tempat di mana brand-brand ternama berlomba memperkenalkan inovasi terbaru mereka. Pada edisi 2026, lebih dari 60 brand turut ambil bagian, mulai dari nama-nama legendaris hingga pemain modern yang terus berkembang dan membawa perspektif baru. Namun di tengah riuhnya persaingan dan deretan rilisan yang serba mencolok,

Grand Seiko justru hadir dengan pendekatan yang terasa lebih tenang dan penuh perenungan. Alih-alih berfokus pada komplikasi yang rumit atau desain yang langsung mencuri perhatian, mereka memilih untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah menjadi kekuatan utamanya presisi yang konsisten, craftsmanship yang detail, serta kemampuan bercerita lewat desain yang terinspirasi dari alam. Pendekatan ini mungkin tidak selalu “teriak” di permukaan, tapi justru meninggalkan kesan yang lebih dalam saat benar-benar diperhatikan.
Salah satu hal yang membuat Grand Seiko begitu berbeda adalah filosofi yang mereka pegang, The Nature of Time. Ini bukan sekadar kalimat pemasaran, melainkan cara pandang yang benar-benar membentuk setiap desain yang mereka ciptakan. Di koleksi 2026, filosofi ini terasa semakin hidup bukan hanya sebagai konsep, tapi sebagai pengalaman visual yang bisa dirasakan. Hampir semua model baru terinspirasi dari elemen alam Jepang, mulai dari hutan yang membeku dalam diam, arus laut yang terus bergerak, hingga kelopak sakura yang jatuh perlahan mengikuti waktu. Menariknya, alih-alih menghadirkan desain yang ramai atau penuh ornamen, Grand Seiko justru memilih pendekatan yang lebih tenang dan subtil. Dial mereka tidak langsung “berteriak” untuk menarik perhatian, tapi justru mengundang kita untuk melihat lebih dekat, memperhatikan detail demi detail. Dan mungkin, di situlah letak magisnya, keindahan yang tidak memaksa, tapi perlahan terasa semakin dalam.
Sebagai penghormatan yang kuat dan penuh emosi terhadap simbol ikonik mereka, Grand Seiko menghadirkan SBGD228 “Red Lion”, sebuah karya yang menangkap semangat liar sekaligus aura megah dari singa yang menjadi lambang brand ini. Jam tangan ini tampil mencolok dengan case berdiameter 44,5 mm yang dibuat dari emas mawar 18 karat, lalu dihiasi secara teliti dengan lebih dari 250 berlian serta batu garnet Mozambik berwarna merah pekat. Dial-nya menggunakan material mother-of-pearl berwarna merah anggur yang kaya, menciptakan latar yang mewah namun tetap elegan.

Di atasnya, terdapat lingkaran dasar dari emas putih 18 karat, tempat batu-batu permata dipasang dengan teknik khusus agar tetap mudah dibaca tanpa mengorbankan keindahan visualnya. Detail kecil yang puitis juga terlihat pada bagian lug, di mana susunan berlian dirancang menyerupai cakar singa yang tajam, sementara strap kulit dari Kyoto diberi tekstur khusus yang terinspirasi dari surai singa menambah karakter yang semakin hidup pada jam ini.

Di balik tampilannya yang memukau, jam ini ditenagai oleh Caliber 9R01, sebuah movement Spring Drive manual-winding yang dikembangkan oleh Micro Artist Studio. Mesin ini menggunakan tiga barrel yang disusun secara seri, memungkinkan cadangan daya hingga delapan hari atau sekitar 192 jam, angka yang luar biasa untuk jam di kelasnya. Keindahan finishing movement ini bisa dinikmati melalui bagian belakang case yang transparan, lengkap dengan indikator power reserve yang sengaja ditempatkan di belakang agar tampilan dial tetap bersih dan minimalis. Diproduksi sangat terbatas, hanya delapan unit di seluruh dunia, SBGD228 “Red Lion” bukan sekadar jam tangan, melainkan representasi puncak dari seni pembuatan jam perhiasan ala Grand Seiko. Rencananya, model ini akan dirilis pada bulan Juni dengan harga sekitar 273.000 dolar AS atau setara kurang lebih Rp4,2 miliar, menjadikannya salah satu koleksi paling eksklusif yang pernah mereka hadirkan.
SBGZ011 dari Grand Seiko hadir sebagai sebuah karya Masterpiece yang terasa begitu puitis, seolah membawa kita langsung ke suasana magis Air Terjun Tateshina di hutan purba Shinshu, Jepang. Jam ini menggunakan movement Spring Drive manual-winding, dibalut dalam case Platinum 950 yang mengusung desain ikonik 44GS dengan garis tegas dan permukaan datar yang khas. Yang membuatnya benar-benar istimewa adalah detail ukiran tangan pada seluruh bagian case. Garis-garis halus tersebut mengalir mengikuti kontur, menyerupai aliran air yang jatuh dari ketinggian, menciptakan kesan dinamis yang lembut sekaligus menenangkan.

Cerita tentang gerakan air ini juga berlanjut ke bagian dial, yang diukir secara manual dengan tekstur unik. Penanda waktu dan jarum dari emas putih 14 karat dibentuk dengan presisi agar tetap mudah dibaca, meskipun berada di atas permukaan yang penuh detail. Di balik keindahannya, SBGZ011 ditenagai oleh Caliber 9R02 movement Spring Drive paling tipis yang pernah dibuat Grand Seiko, dengan ketebalan hanya sekitar 4 mm. Meski ramping, performanya tetap mengesankan dengan cadangan daya hingga 84 jam, berkat teknologi Torque Return System dan Dual Spring Barrel.

Detail finishing pada movement ini juga tidak kalah memikat, dengan tepian yang dipoles halus serta sentuhan kecil berupa motif bunga lonceng (bellflower) yang terinspirasi dari Shiojiri, memberikan nuansa personal yang halus namun bermakna. Jam ini diproduksi sangat terbatas, hanya 50 unit di seluruh dunia, dan dilengkapi dengan strap kulit buaya bergaya klasik serta strap tambahan dari KYOTO Leather dengan aksen metalik yang terinspirasi dari percikan air. Dengan harga sekitar 84.000 dolar AS atau setara kurang lebih Rp1,3 miliar, SBGZ011 dijadwalkan meluncur pada bulan Juli, menjadikannya salah satu karya paling artistik dan eksklusif dalam koleksi tahun ini.
Melanjutkan warisan “Ultra Fine Accuracy” yang pertama kali diperkenalkan tahun lalu, Grand Seiko menghadirkan SLGB006 dengan dial “Ice Forest at Dawn”, sebuah karya yang terinspirasi dari hutan Suwa yang tertutup embun beku saat fajar mulai menyingsing. Jam ini tampil elegan dengan case berdiameter 37 mm dari emas kuning 18 karat, membungkus dial berwarna hitam pekat yang dihiasi percikan berwarna emas. Detail ini menciptakan efek visual menyerupai “sun pillar”, fenomena alam langka di mana cahaya matahari dipantulkan oleh kristal es di udara. Pola hutan es yang tampak hampir seperti dunia fantasi semakin hidup berkat gradasi halus pada dial, menghadirkan suasana hening seolah waktu berjalan perlahan dalam keheningan pagi musim dingin.

Di balik tampilannya yang tenang dan puitis, jam ini ditenagai oleh Spring Drive Caliber 9RB2, movement dengan label U.F.A (Ultra Fine Accuracy) yang menawarkan tingkat akurasi luar biasa, yakni sekitar ±20 detik per tahun. Keindahan mesinnya bisa dinikmati melalui case back safir, di mana bagian bridge dihiasi finishing yang terinspirasi dari tekstur embun beku pada pepohonan musim dingin di Jepang. Mengusung bahasa desain Evolution 9, SLGB006 terasa memiliki karakter yang kuat di pergelangan tangan, menggabungkan kehangatan emas dengan nuansa dingin dan misterius dari lanskap Suwa. Diproduksi terbatas hanya 80 unit di seluruh dunia, jam ini dijadwalkan rilis pada bulan Juni dengan harga sekitar 43.600 dolar AS, atau kurang lebih Rp675 juta, menjadikannya salah satu koleksi eksklusif yang tidak hanya presisi, tetapi juga penuh cerita.
Menandai momen penting dalam perjalanan lini 62GS, Grand Seiko menghadirkan SBGH376 “Sakura-wakaba” sebagai model produksi reguler pertama yang dibuat dari emas kuning 18 karat. Jam ini menangkap keindahan yang begitu singkat namun berkesan saat daun-daun hijau muda mulai tumbuh sementara bunga sakura perlahan berguguran, sebuah transisi halus dari musim semi menuju musim panas. Dial berwarna hijau muda tampil hidup dengan permainan cahaya yang berubah-ubah, menciptakan harmoni yang hangat dengan case emas berdiameter 38 mm. Desainnya tetap setia pada struktur ikonik tanpa bezel dari model asli tahun 1967, di mana kaca dipasang langsung ke case sehingga cahaya bisa masuk dari berbagai sudut dan membuat dial terlihat semakin “bernapas”.

Di balik tampilannya yang lembut, jam ini ditenagai oleh Caliber 9S85, sebuah movement mekanikal Hi-Beat yang bekerja pada frekuensi tinggi 36.000 getaran per jam. Dikembangkan di Studio Shizukuishi, mesin ini dirancang untuk menjaga stabilitas performa sekaligus memberikan cadangan daya sekitar 55 jam, kombinasi yang seimbang antara presisi dan kepraktisan. SBGH376 dijadwalkan rilis pada bulan Juni dengan harga sekitar 32.800 dolar AS atau kurang lebih Rp508 juta. Dilengkapi dengan strap kulit buaya yang lembut, jam ini terasa sederhana namun penuh makna sebuah penghormatan yang elegan terhadap warisan panjang Grand Seiko.
Melalui SBGX363 dan SBGX365, Grand Seiko memperluas koleksi jam berukuran compact mereka dengan sentuhan cerita yang begitu puitis. Kedua model quartz ini terinspirasi dari fenomena hana-ikada atau “rakit bunga”, momen ketika kelopak sakura yang gugur mengalir perlahan di permukaan sungai. Hadir dalam case stainless steel berdiameter 32,3 mm, keduanya menawarkan interpretasi visual yang berbeda, SBGX363 dengan dial merah muda menangkap suasana siang hari yang lembut, sementara SBGX365 dengan dial biru tua menghadirkan nuansa malam yang tenang dan sedikit magis, seolah diterangi cahaya bulan. Keduanya mengusung desain khas 62GS tanpa bezel, yang membuat tampilan jam terasa lebih tipis secara visual sekaligus memungkinkan cahaya masuk dari berbagai sudut, memperkuat karakter dial-nya.

Di balik desain yang minimalis, keduanya ditenagai oleh Caliber 9F51, salah satu movement paling ringkas dalam seri quartz 9F yang legendaris. Meski sederhana, performanya sangat mengesankan dengan tingkat akurasi sekitar ±10 detik per tahun. Teknologi seperti Twin Pulse Control Motor dan Backlash Auto-Adjust Mechanism juga memastikan jarum bergerak presisi tanpa getaran berlebih. Menariknya, jam ini sengaja tidak dilengkapi fitur tanggal atau hari, sehingga perhatian benar-benar tertuju pada keindahan dial dan pengalaman visual yang ditawarkan. Dengan harga sekitar 3.600 dolar AS atau kurang lebih Rp55,8 juta, kedua model ini dijadwalkan rilis pada bulan Juni menjadi pilihan yang sederhana, elegan, dan penuh rasa bagi mereka yang ingin menikmati keindahan musim semi Jepang langsung dari pergelangan tangan.
SBGY043 “Iwao Blue” dari Grand Seiko hadir sebagai perpaduan yang terasa begitu harmonis antara warisan tradisi Jepang dan sentuhan elegansi modern. Jam ini menggunakan movement Spring Drive manual-winding, dengan dial berwarna katsuiro, biru indigo pekat yang dulu dipercaya sebagai warna keberuntungan oleh para samurai, terutama untuk baju zirah mereka. Warna yang dalam ini dipadukan dengan pola ukiran “Iwao” (batu karang), menciptakan tekstur yang menggambarkan kekuatan dan keindahan alam liar yang belum tersentuh. Case stainless steel berdiameter 38,5 mm dipoles menggunakan teknik Zaratsu khas Grand Seiko, menghasilkan permukaan yang tajam dan reflektif. Ditambah lagi, kaca safir berbentuk melengkung memberikan efek pembiasan cahaya yang halus, membuat dial biru tersebut terlihat semakin hidup dari berbagai sudut.

Di balik tampilannya yang tenang namun berkarakter, jam ini ditenagai oleh Caliber 9R31 yang dikembangkan di Shinshu Watch Studio. Movement ini menggunakan Dual Spring Barrel yang mampu memberikan cadangan daya hingga 72 jam, menjaga performa tetap stabil dalam waktu yang cukup panjang. Gelang stainless steel dengan sembilan baris link juga dirancang untuk memantulkan cahaya dengan indah saat bergerak, memberikan kesan bahwa jam ini benar-benar menyatu dengan pergelangan tangan pemakainya. Perpaduan antara sejarah samurai dan presisi mekanikal ini menjadikan SBGY043 sebagai salah satu representasi klasik Spring Drive yang kuat sekaligus elegan. Dijadwalkan rilis pada bulan Juni, jam ini dibanderol dengan harga sekitar 9.800 dolar AS atau kurang lebih Rp152 juta, menjadikannya pilihan menarik bagi kolektor yang menghargai keindahan detail dan cerita di balik sebuah waktu.
Untuk tahun 2026, Grand Seiko membawa teknologi “Ultra Fine Accuracy” mereka lebih jauh bahkan hingga ke kedalaman laut melalui dua model terbaru, SLGB023 dan SLGB025. Keduanya menjadi diver watch paling ringkas dalam sejarah Grand Seiko dengan diameter 40,8 mm, menawarkan kenyamanan tanpa mengorbankan performa profesional. Mengusung dial bertema “Ushio” yang berarti pasang surut, kedua jam ini menghadirkan gradasi warna yang terinspirasi dari laut biru yang menggambarkan cahaya yang menembus kedalaman samudra, serta hijau yang merefleksikan ketenangan perairan dangkal di pesisir. Dibuat dari High-Intensity Titanium, material ini membuat jam terasa sekitar 30% lebih ringan dibandingkan baja, sekaligus tetap kuat untuk penggunaan ekstrem. Tak hanya itu, hadir juga sistem clasp baru dengan mekanisme pengunci dan ekstensi hingga 24 mm, memberikan fleksibilitas tinggi terutama untuk kebutuhan penyelaman profesional.

Di balik desain yang tangguh tersebut, keduanya ditenagai oleh Caliber 9RB1 movement terbaru dengan sertifikasi U.F.A yang menawarkan tingkat akurasi luar biasa, yakni sekitar ±20 detik per tahun. Presisi ini dicapai melalui teknologi canggih seperti penyegelan vakum pada crystal oscillator serta sistem thermo-compensation yang sangat presisi di dalam sirkuitnya. Untuk menunjang ketahanan, bezel dilengkapi material keramik yang tahan gores, sementara kemampuan tahan air hingga 300 meter memastikan jam ini siap digunakan di kondisi ekstrem sekalipun. Dengan harga sekitar 12.400 dolar AS atau kurang lebih Rp192 juta, kedua model ini dijadwalkan rilis pada bulan Juni menjadi representasi sempurna dari perpaduan antara ketahanan, teknologi, dan obsesi Grand Seiko terhadap akurasi.
Koleksi terbaru dari Grand Seiko di Watches and Wonders Geneva 2026 terasa lebih dari sekadar peluncuran produk baru ini seperti sebuah pernyataan yang disampaikan dengan cara yang tenang, tapi sangat kuat. Lewat setiap detail yang mereka hadirkan, Grand Seiko menunjukkan bahwa teknologi dan seni tidak harus berjalan sendiri-sendiri; keduanya justru bisa saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.
Di saat banyak brand berlomba menghadirkan sesuatu yang semakin kompleks, Grand Seiko justru mengingatkan bahwa presisi tidak harus mengorbankan rasa, dan bahwa keindahan bisa hadir dalam bentuk yang sederhana namun bermakna. Pada akhirnya, jam tangan di sini bukan hanya tentang mengukur waktu, tapi tentang bagaimana kita terhubung dengannya. Di dunia yang terasa semakin cepat dan bising, Grand Seiko seperti mengajak kita untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan benar-benar merasakan waktu yang sedang kita jalani.
- Inovasi Terbaru Grand Seiko di Watches and Wonders 2026, Perpaduan Presisi dan Seni Jepang - Apr 14, 2026
- Pengembangan Global Soho House Berlanjut, Kini Hadir di Aoyama Tokyo Jepang - Apr 13, 2026
- Steven Spielberg Sempat Garap Interstellar Setahun, Akui Film Lebih Baik di Tangan Christopher Nolan - Apr 10, 2026









