Jacob Elordi meraih salah satu tonggak terpenting dalam perjalanan karier aktingnya lewat ajang Critics Choice Awards 2026. Aktor kelahiran Australia tersebut berhasil membawa pulang penghargaan Best Supporting Actor berkat penampilannya yang memukau sebagai The Creature dalam film Frankenstein. Kemenangan ini menjadi penghargaan akting besar pertama yang ia raih sejak memulai debutnya di layar lebar, sekaligus menegaskan bahwa Elordi kini bukan hanya bintang populer, tetapi juga aktor yang diakui secara kritis. Momen bersejarah itu menjadi salah satu highlight utama sepanjang malam penghargaan yang berlangsung di Santa Monica, California, pada 4 Januari 2026, dan langsung mengundang banyak pujian dari para kritikus maupun penonton.
Jacob Elordi, yang kini berusia 28 tahun, benar-benar mencuri perhatian ketika namanya disebut sebagai pemenang Best Supporting Actor di ajang Critics Choice Awards. Penghargaan bergengsi ini dikenal sebagai salah satu barometer penting menjelang musim penghargaan besar lain seperti Golden Globes dan Oscar, sehingga kemenangannya terasa semakin berarti.
Saat naik ke panggung untuk menerima trofi, Elordi tampak begitu terkejut sekaligus emosional. Ia membuka pidatonya dengan candaan spontan, “Bloody hell, I really didn’t plan for it”, yang mengundang tawa penonton. Setelah itu, ia dengan penuh rasa hormat menyampaikan terima kasih kepada sutradara Guillermo del Toro, serta kedua orang tuanya yang selalu memberi dukungan sejak awal perjalanan kariernya.

Bagi Elordi, penghargaan ini menjadi titik puncak dari proses panjang yang ia jalani. Sebelumnya, ia lebih dikenal melalui perannya di serial populer Euphoria dan sejumlah film komersial. Namun lewat Frankenstein, ia akhirnya mendapatkan pengakuan kritikus berkat kemampuan aktingnya yang matang berhasil menghidupkan sosok makhluk legendaris dengan lapisan emosi, kepekaan, dan kekuatan fisik yang terasa nyata di layar.
Frankenstein merupakan adaptasi terbaru dari novel legendaris karya Mary Shelley dan resmi tayang pada 2025. Di tangan sutradara visioner Guillermo del Toro, kisah klasik ini dihidupkan kembali dengan skala produksi besar dan sentuhan artistik yang ambisius. Film ini memadukan unsur drama, horor, dan fantasi gelap, sehingga menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga penuh kedalaman emosional.
Cerita berfokus pada Victor Frankenstein diperankan oleh Oscar Isaac seorang ilmuwan brilian yang terobsesi menantang batas kehidupan. Ia menciptakan makhluk hidup dari potongan-potongan tubuh manusia. Namun, ciptaannya itu berkembang menjadi sosok yang rumit dan tragis, merasakan penolakan, kesepian, serta pergulatan mencari jati diri. Karakter inilah yang dimainkan secara intens oleh Jacob Elordi, yang berhasil menghadirkan “makhluk” dengan sisi kemanusiaan yang begitu kuat.

Film ini menuai banyak apresiasi dari para kritikus. Mereka memuji visual yang memukau, detail desain produksi, hingga kostum yang memperkaya suasana dunia gotik yang kelam namun terasa nyata. Tak heran, Frankenstein juga menyabet sejumlah penghargaan teknis di Critics Choice Awards, termasuk Best Production Design, Best Costume Design, dan Best Hair & Makeup menegaskan kualitas artistiknya yang berada di level tertinggi.
Karakter The Creature sudah lama dikenal sebagai salah satu ikon terbesar dalam dunia fiksi horor. Namun dalam versi terbaru Frankenstein, Jacob Elordi memberikan interpretasi yang berbeda dari kebanyakan adaptasi sebelumnya. Ia tidak memerankan makhluk ini hanya sebagai sosok menakutkan tanpa perasaan, melainkan sebagai figur yang memiliki spektrum emosi yang lengkap, mulai dari rasa ingin tahu, ketakutan, harapan, hingga luka mendalam akibat penolakan masyarakat. Pendekatan ini membuat penonton bisa melihat sisi “manusia” dari makhluk yang selama ini dianggap sekadar monster.
Dalam beberapa sesi wawancara, Elordi mengakui bahwa peran tersebut terasa sangat personal baginya. Ia menyebut bahwa dirinya menuangkan banyak pengalaman batin ke dalam karakter itu termasuk kerentanan, kegelisahan, serta kekuatan batin yang tidak selalu terlihat di permukaan. Hal inilah yang membantu membentuk sosok The Creature menjadi karakter yang kompleks dan mudah dipahami secara emosional.
Tak heran, penampilan Elordi mendapatkan apresiasi luas dari para kritikus. Banyak yang menilai bahwa Frankenstein menghadirkan salah satu representasi paling emosional dan manusiawi terhadap karakter klasik dalam beberapa tahun terakhir. Interpretasi yang lebih dalam ini membuat filmnya tidak hanya menakutkan, tetapi juga menyentuh dan meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.
Di tangan Guillermo del Toro, Frankenstein tidak hanya hadir sebagai kisah tentang makhluk ciptaan yang menebar ketakutan. Film ini berubah menjadi sebuah refleksi mendalam mengenai berbagai pertanyaan kemanusiaan. Penonton diajak merenungkan apa sebenarnya makna menjadi manusia, apakah ditentukan oleh rupa fisik, kecerdasan, atau justru oleh kemampuan merasakan, mencintai, dan terluka.

Del Toro juga menyoroti dimensi moral yang dihadapi seorang ilmuwan ketika bermain-main dengan kekuatan kehidupan. Film ini menggugah pertanyaan tentang tanggung jawab seorang “pencipta” terhadap ciptaan yang ia hidupkan, termasuk konsekuensi etis ketika ciptaan tersebut harus menanggung penderitaan yang tidak pernah ia pilih.
Makhluk yang lahir dari eksperimen Frankenstein pun menjadi simbol tragis dari mereka yang hadir di dunia tanpa diminta, namun harus bergulat dengan penolakan, kesepian, dan pertanyaan tentang tujuan keberadaannya.
Semua tema besar itu disampaikan melalui bahasa visual yang indah, sinematografi yang megah, tata musik yang emosional, serta performa akting yang kuat dari para pemerannya. Perpaduan elemen-elemen tersebut membuat Frankenstein bukan hanya film horor, melainkan pengalaman sinematik yang menyentuh, menggetarkan, dan meninggalkan renungan setelah kredit penutup bergulir.
Kemenangan Jacob Elordi terasa makin mengesankan jika melihat siapa saja lawannya dalam kategori Best Supporting Actor. Ia harus bersaing dengan sejumlah nama besar yang sudah lama diakui kualitasnya, termasuk Benicio del Toro dan Sean Penn dari film One Battle After Another, serta aktor-aktor papan atas seperti Paul Mescal, Adam Sandler, dan Stellan Skarsgård.
Daftar nominasi tersebut menunjukkan betapa ketatnya kompetisi tahun ini. Fakta bahwa Elordi berhasil keluar sebagai pemenang memperlihatkan bahwa penampilannya benar-benar menonjol di mata para kritikus. Interpretasinya terhadap karakter klasik The Creature dinilai bukan hanya segar dan mengejutkan, tetapi juga memiliki bobot dramatis yang mampu berdiri sejajar bahkan melampaui para aktor berpengalaman lainnya.
Kemenangan Jacob Elordi di Critics Choice Awards 2026 menjadi bentuk pengakuan besar terhadap kematangan aktingnya. Perannya sebagai The Creature menuntut ekspresi emosional yang rumit sekaligus kemampuan fisik yang intens dan Elordi berhasil menyeimbangkan keduanya. Karakter yang ia mainkan bukan sekadar monster menakutkan, melainkan simbol tragis tentang seorang “manusia” yang berjuang menemukan tempatnya di dunia yang dingin dan tidak bersahabat.
Di sisi lain, keberhasilan Frankenstein di berbagai kategori teknis membuktikan bahwa film ini melampaui label “film horor”. Dengan kualitas produksi yang detail, tata artistik yang memukau, dan eksekusi visual yang kuat, karya ini berdiri sebagai film berkelas sinematik yang layak diperhitungkan di musim penghargaan.
Gabungan antara cerita yang emosional, penyutradaraan yang visioner, serta penampilan para aktor terutama Jacob Elordi menjadikan Frankenstein sebagai salah satu film paling menonjol pada periode 2025–2026. Bagi pecinta film, karya ini bukan hanya tontonan, melainkan pengalaman yang meninggalkan kesan panjang setelah layar gelap.








