Mariah Carey Bicara Soal Filantropi, Karier Panjang, dan Menolak Disebut ‘Legenda’

3
Sumber: gettyimages

Mariah Carey, salah satu sosok paling ikonik dalam dunia musik internasional, kembali menjadi sorotan publik pada awal tahun 2026. Perhatian kali ini tidak semata-mata tertuju pada deretan pencapaiannya yang luar biasa di industri hiburan, tetapi juga pada cara ia merefleksikan perjalanan panjang kariernya dengan penuh kedewasaan.

Di tengah popularitas dan pengaruh besarnya, Carey menunjukkan sisi yang lebih personal melalui pembahasan tentang komitmennya dalam berbagai kegiatan filantropi serta kontribusi sosial yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun. Yang paling menarik, Mariah Carey justru mengungkapkan pandangan yang cukup mengejutkan, ia tidak merasa nyaman menyebut dirinya sebagai seorang “legenda”, meskipun banyak orang menempatkannya dalam posisi tersebut.

Pernyataan rendah hati ini disampaikan dalam wawancara cover story bersama Billboard, menjelang penganugerahan penghargaan MusiCares Person of the Year 2026. Penghargaan prestisius ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Carey, bukan hanya dalam menghasilkan karya musik yang berpengaruh secara global, tetapi juga atas perannya dalam mendukung berbagai gerakan kemanusiaan dan kegiatan sosial yang berdampak luas. Mariah Carey memulai perjalanan kariernya pada awal dekade 1990-an dan dalam waktu singkat berhasil menjelma menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah musik pop dan R&B.

Dikenal dengan kemampuan vokal multi-oktaf yang luar biasa, Carey mampu menciptakan karya-karya yang mendominasi tangga lagu dunia selama puluhan tahun dan menjadikannya simbol kejayaan musik modern. Sepanjang kariernya, ia telah mencatatkan prestasi besar dengan meraih 19 single yang berhasil menduduki posisi nomor satu di Billboard Hot 100, sebuah pencapaian langka yang hanya diraih oleh sedikit artis sepanjang sejarah industri musik. Tidak hanya itu,

Mariah Carey Bicara Soal Filantropi, Karier Panjang, dan Menolak Disebut ‘Legenda’
Sumber: gettyimages

Mariah juga mengoleksi lima penghargaan Grammy serta puluhan penghargaan bergengsi lainnya, menegaskan konsistensinya selama lebih dari tiga dekade berkarya. Musiknya pun tidak sekadar populer, tetapi juga menjadi bagian dari fenomena budaya global, salah satunya melalui lagu ikonik “All I Want for Christmas Is You” yang sejak dirilis pada tahun 1994 terus menjadi soundtrack wajib musim liburan dan kembali memuncaki chart setiap bulan Desember. Namun, di balik semua pencapaian monumental tersebut, Carey tetap menolak terjebak dalam label seperti “legenda”, karena baginya gelar semacam itu seolah menutup ruang untuk terus berkembang. Ia lebih memilih melihat dirinya sebagai seorang seniman yang masih terus bekerja, berproses, dan menciptakan karya baru daripada sekadar hidup dalam kejayaan masa lalu.

Dalam wawancara tersebut, Mariah Carey dengan sikap rendah hati mengungkapkan bahwa ia sebenarnya tidak merasa nyaman ketika orang-orang menyebutnya sebagai “legenda”, meskipun banyak penggemar, kritikus, maupun musisi lain menilai dirinya pantas mendapat gelar tersebut. Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki makna tersendiri terhadap istilah yang mereka gunakan, namun ia sendiri tidak pernah melabeli dirinya sebagai legenda karena merasa masih terus bekerja dan berusaha keras.

Pernyataan ini memperlihatkan sisi kepribadian Carey yang tetap membumi, di mana ia lebih menekankan pentingnya proses, kerja keras, dan perjalanan panjang dibanding sekadar gelar kehormatan atau penghargaan semata. Baginya, sebutan seperti “legenda” dapat menciptakan kesan bahwa seseorang sudah mencapai titik akhir atau puncak tertinggi, padahal ia masih melihat dirinya sebagai seniman yang terus berkembang dan belum berhenti berkarya. Sikap ini juga mencerminkan dedikasinya terhadap longevity atau ketahanan karier, karena ia terus berupaya menjaga relevansi dan kreativitasnya lewat proyek-proyek baru, termasuk album terbarunya Here for It All yang sukses mencatatkan prestasi tinggi di tangga album berbagai kategori.

Salah satu bagian paling menginspirasi dari wawancara tersebut adalah ketika Mariah Carey membahas keterlibatannya dalam dunia filantropi, yang baginya memiliki makna sama pentingnya dengan perjalanan musiknya. Carey menegaskan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian chart, penjualan album, atau popularitas semata, tetapi juga dari seberapa besar seorang artis mampu memberikan dampak positif bagi komunitas yang membutuhkan. Komitmen sosialnya telah terlihat dalam berbagai bentuk kontribusi nyata, salah satunya melalui Camp Mariah, sebuah program yang ia jalankan bersama organisasi nirlaba Fresh Air Fund untuk mendukung anak-anak dari latar belakang kurang beruntung.

Mariah Carey Bicara Soal Filantropi, Karier Panjang, dan Menolak Disebut ‘Legenda’
Sumber: gettyimages

Program ini memberikan kesempatan bagi para remaja untuk mengikuti pengalaman tiga minggu penuh kegiatan edukatif dan petualangan luar ruangan, sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Tidak sekadar menjadi liburan, camp tersebut juga memperluas wawasan peserta tentang peluang masa depan lewat kelas-kelas inspiratif seperti film, robotika, hingga kuliner. Selain itu, Carey juga menunjukkan dukungan kuat terhadap komunitas LGBTQ+, termasuk pada Desember 2025 ketika ia melelang jaket panggungnya untuk organisasi advokasi GLAAD, dengan hasil penjualan lebih dari $5.000 atau setara dengan Rp78 juta yang dialokasikan bagi dukungan komunitas transgender.

Ia mengakui bahwa meskipun jadwalnya sangat padat, memberikan kembali kepada masyarakat tetap menjadi hal penting baginya, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan waktu dan kenyamanan pribadi. Di luar itu, Carey juga pernah terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan lainnya, seperti bantuan bagi korban bencana alam dan kampanye kesehatan selama pandemi, yang meski tidak selalu mendapat sorotan besar, menunjukkan konsistensi komitmennya dalam menggunakan platformnya bukan hanya sebagai bintang musik, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial.

Salah satu alasan utama mengapa Mariah Carey menolak gelar “legenda” adalah karena ia memandang dirinya sebagai seorang seniman yang terus berada dalam proses evolusi dan perkembangan tanpa henti. Baginya, karier bukanlah sekadar monumen kejayaan masa lalu yang hanya dikenang, melainkan sebuah perjalanan panjang yang terus bergerak maju dan dipenuhi dengan pencapaian baru. Carey masih aktif merilis proyek musik segar, termasuk album terbaru yang berhasil mencatat prestasi tinggi di tangga lagu, membuktikan bahwa relevansinya di industri tetap kuat.

Selain itu, ia juga terus menerima penghargaan bergengsi, seperti MTV Video Vanguard Award serta berbagai pengakuan ikonik lainnya sepanjang 2025, yang semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu figur paling berpengaruh di dunia musik. Tidak hanya di ranah rekaman, Carey juga dikabarkan akan mengambil peran penting dalam acara global besar, termasuk rencana tampil di upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan/Cortina. Namun, di tengah semua pencapaian tersebut, Carey tetap menegaskan bahwa yang paling berarti baginya bukanlah titel atau label kehormatan, melainkan kerja nyata, dedikasi yang konsisten, serta dampak yang ia hasilkan melalui musik dan kontribusi sosialnya yang terus berlanjut.

Salah satu pesan paling kuat yang menjadi inti dari wawancara tersebut adalah filosofi hidup Mariah Carey yang sederhana namun mendalam, “Be True to Yourself” atau tetaplah setia pada diri sendiri. Carey menjelaskan bahwa prinsip ini menjadi alasan utama di balik setiap langkah yang ia ambil, baik saat tampil di atas panggung maupun ketika menjalankan aktivitas di luar dunia musik. Baginya, keberhasilan sejati tidak hanya datang dari bakat atau popularitas, tetapi juga dari integritas pribadi, kerja keras yang konsisten, serta ketulusan untuk memberi kembali kepada orang lain.

Mariah Carey Bicara Soal Filantropi, Karier Panjang, dan Menolak Disebut ‘Legenda’
Sumber: gettyimages

Ia menekankan bahwa menjadi autentik dan tidak kehilangan jati diri adalah kunci untuk bertahan dalam industri yang terus berubah. Karena itu, “Be True to Yourself” bukan sekadar slogan motivasi, melainkan nilai yang telah membimbing seluruh perjalanan kariernya sejak album debutnya pada tahun 1990 hingga pencapaian besar seperti penghargaan MusiCares Person of the Year 2026, dan akan terus menjadi fondasi dalam langkah-langkahnya ke depan.

Mariah Carey mungkin memilih untuk tidak menyebut dirinya sebagai “legenda”, namun perjalanan hidup dan kariernya membuktikan bahwa dampaknya jauh melampaui sekadar sebuah gelar. Deretan prestasi luar biasa, mulai dari puluhan lagu hit yang menduduki posisi puncak tangga musik dunia, karier yang tetap kokoh selama lebih dari tiga dekade, hingga kontribusi sosial yang nyata melalui berbagai kegiatan filantropi, menunjukkan bahwa warisannya berbicara lebih kuat daripada label apa pun.

Dedikasinya dalam menjaga relevansi karya, ketahanan karier yang langgeng, serta komitmennya untuk terus berkembang dan memberi kembali kepada masyarakat menjadikannya sumber inspirasi, bukan hanya bagi para musisi, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin meninggalkan pengaruh positif dalam kehidupan orang lain. Dengan demikian, Mariah Carey bukan sekadar artis besar, melainkan sosok yang terus berkarya, berproses, dan memberikan dampak tanpa henti.