Brava Sunset: Saatnya Mengenal Humania Lebih Dalam

1005

humania

Anda hidup di era musik tahun 90-an?

Tentunya nama “Humania” tak terdengar asing di telinga Anda. Brava Sunset beberapa waktu lalu mengundang Humania (EQ Puradiredja dan Heru Singgih) untuk berbincang santai bersama dengan Brava Radio.

Sebelum dikenal dengan nama Humania, mereka memakai nama ‘EQ dan Heru’. Hingga pada suatu titik, EQ dan Heru memutuskan untuk mengganti nama menjadi ‘Humania’.

Mengapa ‘Humania’? Sulit awalnya bagi mereka mencari nama. Nama itu mereka dapati ketika mereka mengembalikan semuanya kepada lirik-lirik yang tertanam dalam lagu. Lebih kepada hubungan antara sesama manusia dan manusia dengan Tuhan. Jadilah mereka memakai nama “Humania” yang dikenal hingga saat ini.

Genre musik Humania ialah paduan musik jazz, blues, hingga reggae bertemakan kemanusiaan. Bukan genre yang biasa di era 90′-an. Saat itu genre pop bertema percintaan merajalela industri musik Indonesia. Berbagai record labels menganggap musik mereka kurang begitu diminati orang-orang, melihat kondisi perkembangan tren. Hingga berujung kepada keputusan untuk membuat record label sendiri, jadilah mereka group band berkonsep indie.

EQ selalu beranggapan bahwa semua orang tak bisa hidup tanpa musik.

“Kita percaya musik adalah media penyampaian pesan. Kalo nggak punya pesan kenapa bikin album?” tutur EQ pada Brava Radio. Humania menciptakan lagu-lagu yang mendengungkan pesan-pesan dalam alunan musiknya.

Mereka mengakui, Humania cukup terpengaruh dari musik Stevie Wonder yang memiliki lirik mendalam dan bisa secara luas melakukan penyampaiannya.

Lirik-lirik yang mereka ciptakan tentunya datang dari inspirasi. Inspirasi yang datang darimana saja, tak terbatas. Termasuk pengalaman pribadi, konflik, interaksi sosial, ataupun perdamaian dunia.

Share it