Pameran Radio Kuno di Surabaya

101

 

“Bukan hanya kekunoan, tapi kami nilai sejarah dari radio, karena proklamasi kemerdekaan tersiar berkat radio, karena televisi belum ada, apalagi Internet dan media sosial,” ungkap Iwan Gandjar Indrawan, salah satu anggota Padmaditya (Pelestari Audio Radio Yogyakarta) di Surabaya.

Iwan juga menjelaskan, di sela-sela pameran bertajuk “Layang Swara” yang sempat disaksikan sejumlah turis dari Eropa, anggota komunitas yang berjumlah tujuh orang itu memiliki koleksi 400-an radio dan megaphone kuno.

“Tapi, radio yang kami pamerkan di sini berkisar 56 radio dan megaphone milik tujuh anggota komunitas itu. Kondisi puluhan radio dan megaphone kuno itu nisbi bagus atau berkisar 80 persen, karena cukup terawat,” jelasnya. Ia juga sempat memperdengarkan suara radio yang dibuat pada tahun 1925 dengan bunyi masih nisbi-bagus dan masih mampu menangkap gelombang AM dan FM.

Pameran yang digelar Museum HoS bekerja sama dengan Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) itu, juga memamerkan salah satu radio kuno dengan merek “Philips Aida” keluaran sekitar tahun 1946 pasca-Perang Dunia II. Radio buatan Eindhoven, Belanda, ini dilengkapi dengan skala gelombang radio yang dihiasi dengan nama-nama kota dengan ejaan lama seperti Batavia, Soerabaia, dan Bandoeng.

Selain itu, ada juga radio yang memiliki keunikan pada jarum gelombangnya yang mirip dengan jarum kompas, yang juga diproduksi pasca-Perang Dunia II dengan merk “Philips Kompas”. Ada pula “Bence” yang merupakan radio yang dipasarkan di Indonesia sekitar tahun 1950-an dan diproduksi di daerah Dinoyo, Surabaya. 

“Selain itu, ada juga megaphone kuno yang pernah dipakai dalam film tentang Soegija Pranata,” ujar Iwan tentang pameran yang diselenggarakan untuk menyambut Hari Siaran Nasional yang jatuh setiap tanggal 1 April itu.

Sementara itu, anggota lain dari komunitas itu, Endro Nugoroho, mengatakan dirinya tertarik dengan radio kuno, karena desain yang unik, kualitas suara yang lebih natural, dan nilai sejarah atau kelangkaan.

“Suaranya lebih natural karena memakai tabung dan sifatnya analog, sehingga suara tidak diolah terlebih dulu seperti dalam alat komunikasi sekarang yang menggunakan transistor dan rekayasa digital,” ungkapnya seperti yang dilansir Antara.

Share it