Peter Wongso: Jangan jadi korban mode

1944

The Captain pada tanggal 14/10/16 yang dibawakan oleh Ferdy Hasan, kedatangan tamu yaitu Peter Wongso. Beliau adalah Designer Wong Hang Distinguished Tailor.

Sebelumnya, Ferdy dengan Peter Wongso membicarakan mengenai kunci sukses Wong Hang.

Q: Perusahaan Wong Hang sudah berjalan selama 83 tahun dan merupakan perusahaan keluarga. Sebuah desain pasti dibutuhkan personal touch. Namun yang namanya jas, kan modelnya begitu-begitu saja. Kalau mau inovasi, bagaimana dong?

A: Desain itu harus diletakkan secara proposional. Analisa bagaimana square body seseorang, ketebalan badannya, panjang bahu dan tangannya, kaki dsb.

Itu akan menentukan desain yang cocok. Yang terpenting, jangan jadi korban mode.

Ini penting. Meski macam kancing atau model belakangnya beda, tapi pasti selalu ada tips secara personal.

Misal warna yang cocok di orang ini apa, kain yang bagus apa. Kita harus bisa menciptakan lapisan pertama, kedua, ketiga di dalam jasnya.

Misal ada orang yang suka kain berbahan tebal, kalau kita buat modelnya asal-asalan, nanti bisa malah keliatan dia malah pakai selimut.

Sebaliknya, ada yang mau kain tipis, maka harus melekatkan lapisan pertama dan kedua, jangan sampai kaya pake bendera. Ini sering terlupakan oleh orang-orang yang suka pakai jas.

Sebenarnya desain mode itu general. Tapi yang cocok untuk tiap customer, harus butuh sentuhan desainer. Touch-nya beda.

Q: Dari usia berapa dipersiapkan terjun ke dunia ini?

A: Tidak secara spesifik sih dipersiapkan sih sebenarnya. Sudah kebiasa melihat orang tua melakukan seni melayani pelanggan, pilih kain, jarum benang, dll.

Otomatis kita mengukur diri, bisnis harus berdarah seni yang tidak bisa semua orang ambil. Harus ada passion-nya. Seni menata diri dulu.

Q: Bagaimana sih cara melihat trend masa depan, atau meng-update trend mode?

A: Kalau saya ngliatnya dari perkembangan zaman, dulu kita nggak lihat benda unik dan antik yaitu komputer.

Hari ini akhirnya ada. Dulu pake tangan doang, sekarang sudah ada mesin canggih. Namun bisnis kita tetap harus memiliki unsur tradisional, ini tidak boleh ditinggal.

Q: Meskipun sekarang kerjanya sudah menggunakan mesin, tapi tadi Pak Wongso bilang harus tetap ada personal touch-nya. Bagaimana cara tetap ada personal touch padahal menggunakan mesin?

A: Personal touch itu bisa fokusnya ke lekukan tubuh orang, bagian-bagian tubuh tertentu, kadang-kadang kan pada tubuh orang ada yang body-nya non-ideal, tidak simetris, dsb.

Itu yang harus diatasi dengan sentuhan tangan.

Q: Selama 83 tahun, siapa orang-orang terkenal yang sudah ditangani dan yang paling berkesan?

A: Saya cerita event yang paling berkesan saja deh yah.

Jadi dulu ada suatu event di Surabaya, saya sempat menyeburkan lahan di WO. Sekitar tahun 80an, di Surabaya ada gedung paling megah dan eksklusif yaitu Surabaya Delta Plaza.

Waktu saya datang, saya disambut oleh Bapak Presiden Soeharto. Itu yang paling berkesan buat saya.

Bravaners, terus dengarkan Brava Radio di 103.8 FM atau bisa melalui streaming di sini. [teks Gabriella Sakareza]

 

Share it