Strategi Pertamina Saat Konsumsi Premium Naik 30% Jelang Lebaran

27

Seperti yang dilansir dari Bisnis.com, dari besaran realisasi, badan pengatur distribusi BBM tersebut mengatakan bahwa stok selama Idul Fitri akan cukup meski kemungkinan akan ada kenaikan signifikan dari bensin jenis premium 30% pada H-15 sebelum hari raya dan H+15 setelah hari raya.

Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengatakan berkaitan dengan penyaluran harian (daily of take) pada H-5 sebelum Idulfitri tetap akan mengalami peningkatan konsumsi pada premium.

“Pada H-5 akan terjadi peningkatan sekitar 33% dari rata-rata harian 80.000 kl. Karena tidak ada kegiatan industri, maka konsumsi Solar justru akan menurun,” ujarnya di Jakarta, Jumat (2/8/2013).

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan 6 skenario untuk menjaga pasokan BBM dan penumpukan di sejumlah pos pengisian bahan bakar sepanjang jalur mudik di Pantai Utara.

Jumlah tangki yang disipakan adalah 38 unit yang akan disalurkan secara bertahap pada 27 Juli. Sementara itu, persiapan switching tangki pendam akan dimulai pada 1 Agustus dan akan dilakukan secara bertahap.

Persiapan ketiga, mengingat jumlah pemudik yang mengendarai motor selalu meningkat setiap tahun, Pertamina menyiapkan 32 SPBU yang memisahkan pengisian BBM antara mobil dan motor agar lebih efektif. Letak ke 32 SPBU itu tersebar pada kota-kota seperti Indramayu, Cirebon, Karawang, Subang, Bogor, dan Bekasi. Pada SPBU tersebut juga disediakan untuk transit khusus sepeda motor.

Persiapan selanjutnya oleh badan usaha milik negara tersebut adalah meningkatkan buffer stock di SPBU dengan menempatkan mobil tangki isi BBM di titik SPBU dengan tingkat kemacetan yang parah. Misalnya di jalur tol Cikampek dan Simpang Jomin.

Kemacetan merupakan faktor utama penyebab keterlambatan penyaluran tangki. Untuk itu, Pertamina melakukan koordinasi dengan polisi sektor di tempat-tempat tertentu untuk membuka dan menutup jalur SPBU di Pantura. SPBU tersebut berada di Subang, Karawang, Indramayu, dan Cirebon.

Titik paling parah yang dicatat oleh perseroan diperkirakan seperti tahun lalu yaitu arus dari Cirebon dan Jakarta bertemu.

Berkaitan dengan pasokan minyak, Direktur BBM BPH Migas Djoko Siswanto mengatakan meski akhir-akhir ini marak pencurian minyak, pihaknya telah mengupayakan untuk memperketat operasi pengawasan dan inspeksi di beberapa tempat. Dia mengatakan hingga Juni tercatat 439 kasus penyelundupan BBM. Data BPH mencatat penyelundupan paling banyak terjadi pada Mei sebesar 120 kasus.

“Penyelundupan paling banyak solar. Dibanding tahun lalu pada semester I tercatat kurang lebih 300-an kasus. Peningkatan ini karena keputusan kenaikan BBM yang tertunda terus,” ujarnya.

Dia menambahkan, jumlah nilai barang bukti kasus penyelundupan BBM dari Januari hingga Mei sebesar Rp16 miliar. Dari nilai sebesar itu, barang bukti yang tercatat di BPH Migas baik BBM subsidi maupun nonsubsidi sebesar 977, 4 juta liter. Saat ini BPH masih memproses 319 kasus yang harus berada di tahap penyidikan. Hingga Mei, tahap penuntutan telah tercatat 100 kasus dan tahap persidangan sebanyak 20 kasus.

Share it