Arkeolog Temukan Anak Panah Berusia 3.000 Tahun Dari Bahan Luar Angkasa

20
Arkeolog Temukan Anak Panah Berusia 3.000 Tahun Dari Bahan Luar Angkasa

Baru-baru ini terdapat sebuah analisis dari peneliti Swiss yang mengungkap anak panah temuan arkeolog berusia 3.000 tahun dan dibuat dari bahan yang berasa dari luar angkasa.

Pada akhir tahun 1800-an, para arkeolog menemukan sebuah mata panah di wilayah pemukiman Zaman Perunggu di Mörigen, Swiss. Kemudian artefak berusia 3.000 tahun tersebut menjadi bagian dari koleksi di Museum Sejarah Bern.

Arkeolog Temukan Anak Panah Berusia 3.000 Tahun Dari Bahan Luar Angkasa

Dlam analisi yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science edisi September mengungkapkan benda tersebut bukanlah mata panah biasa. Benda tersebut dibuat dari meteorit yang jatuh ke Bumi 3.500 tahun yang lalu.

“Dari luar, benda ini terlihat seperti mata panah biasa yang dilapisi karat,” kata Beda Hofmann, penulis utama studi yang juga kepala dan kurator mineralogi dan meteorit di Museum Sejarah Alam Bern, dikutip dari LiveScience.

Arkeolog Temukan Anak Panah Berusia 3.000 Tahun Dari Bahan Luar Angkasa

Beberapa metode termasuk tomografi sinar-X (pencitraan terkomputerisasi) dan spektrometri gamma (proses yang mendeteksi bahan radioaktif yang memancarkan gamma), menunjukkan mata panah seukuran telapak tangan itu mengandung isotop aluminium-26 yang secara alami tidak ada di Bumi.

Baca Juga: Jelang Duel, Mark dan Zuckerberg Saling Sindir Lewat Cuitan Medsos

Tidak hanya itu, ditemukan juga jejak paduan besi dan nikel yang konsisten dengan meteorit. Para peneliti menjelaskan bekas gerinda yang tersisa dari saat meteorit dibentuk menjadi mata panah, dan sisa-sisa tar, yang kemungkinan besar digunakan untuk menempelkan ujungnya pada batang panah.

Menariknya, para ilmuwan menyimpulkan mata panah tersebut kemungkinan besar pernah diperdagangkan. Diketahui sampai saat ini hanya 55 benda semacam ini yang pernah ditemukan di Eurasia dan Afrika di 22 lokasi.