Budi Tirtawisata: Pariwisata Indonesia bergerak dengan cepat

40

Dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Dunia yang jatuh pada 27 September lalu, Travel Talk bersama Christian Rahadiansyah mengulas topik mengenai pariwisata Indonesia dan dunia bersama Budi Tirtawisata, selaku dari CEO Panorama Group, perusahaan terbesar di bidang pariwisata.

Pemerintah menargetkan 12 juta turis per tahun, namun di tahun lalu target hanya tercapai 11,5 juta. Menurut Budi, hal ini bukanlah hal yang besar.

Karena, pemerintah sudah melakukan hal yang baik dalam hal branding Indonesia di luar negeri, terkait dengan naiknya anggaran pariwisata dari 300 milyar menjadi 5 triliun. Angka 11,5 juta merupakan buah dari hasil usaha yang telah dilakukan. Secara gambaran besar, ini merupakan prestasi.

Budi sendiri sangat mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menaikkan anggaran sejajar, bahkan lebih dari negara negara tetangga di Asia. Hal ini dirasakan Budi memiliki dampak yang cukup besar. Branding Indonesia sudah jauh lebih dikenal, dimana animo masyarakat luar negeri terhadap Indonesia juga sudah tinggi.

Mengikuti istilah pemerintah Budi juga menyebutkan perihal branding, advertising dan selling. Dimana branding sudah digalakkan oleh pemerintah melalui VITO (visit Indonesia tourism officer).  Sementara untuk advertising dan selling menjadi tanggung jawab dari seluruh stakeholder pariwisata di Indonesia.

Budi merasa bahwa arah dari pergerakan pariwisata Indonesia sedang tailwind, dimana dorongan terasa dari belakang sehingga terasa cepat pergerakannya, jika bisa bekerjasama dengan benar maka hasilnya akan baik.

Mengenai pemetaan statistik, mayoritas turis berasal dari Malaysia, Cina, Singapura dan Australia. Melihat ini, Budi menyampaikan bahwa ia nelihat adanya potensi dari negara-negara lain, terlebih pemerintah sudah memberikan bebas visa kepada 169 negara.

Namun, potensi ini tidak didapat dengan serta merta, menurut Budi setidaknya perlu waktu kurang lebih enam bulan untuk membuat masyarakat luar negeri menyadari adanya bebas visa, aware terhadap potensi pariwisata di Indonesia.

Maka dari itu potensi itu tidak dapat didapatkan dalam jangka waktu short term tetapi mid term, kurang lebih enam bulan sampai satu tahun ke depan.

Budi juga menambahkan bahwa objek wisata di Indonesia perlu banyak ditata. Namun, penataan objek wisata tiap daerah merupakan tanggung jawab dan komitmen dari kepala daerah itu sendiri.

[teks Angelita Christy, Brava Listeners dari Universitas Multimedia Nusantara | foto swa.co.id]

Baca juga:
Jam tangan Bomberg: Berani dan provokatif
Hotel Mövenpick hadirkan 7 kuliner Prancis eksklusif
5 Olahraga yang dapat dilakukan saat musim dingin

Share it