Rama Raditya: Qlue untuk menampung berbagai keluhan

11

The Captain (5/4) bersama Ferdy Hasan dan seorang founder & CEO Qlue, Rama Raditya.

Kali ini akan membahas tentang keunggulan dari applikasi Qlue.

Q: Bagaimana background terbuatnya aplikasi Qlue?

A: Awalnya itu sebenarnya dari perasaan frustasi sehari-hari. Terinspirasi dari orang-orang yang sering ngeluh di sosmed, dan juga dari Jakarta yang makin banyak masalah, mulai dari genangan, macet dan lain lain. Akhirnya kita memutuskan membuat platform yang bisa menyambungkan missing link antara warga dengan pemerintah. Waktu itu kita tawarkan kerjasama ke pemprov DKI, waktu itu Gubernurnya masih Jokowi di tahun 2014, dan akhirnya yang nerima pak Ahok dan kami langsung diminta untuk kerjasama.

Q: Mengapa diberi nama Qlue?

A: Qlue itu sebenarnya diambil dari “keluhan”, jadi memang ini intinya adalah aplikasi untuk mengeluh.

Q: Apa saja yang bisa dilakukan oleh Qlue?

A: Cukup mudah. Untuk melapor harus ada di lokasi, tidak bisa ada di rumah atau di tempat lain karena akan banyak hoax. Jadi nanti kita akan ambil geo tech lokasi pelapor dan bisa juga upload foto dan video, lalu ada label mulai dari macet, sampah, jalan rusak, sampai saat ini ada 25 label yang terintegrasi dengan Jakarta Smart City.

Begitu dilaporkan, nanti lurah terkait akan dapat laporan tersebut, dinas terkait juga. Lalu, akan diukur oleh Jakarta Smart City akan kinerja dari masing-masing PNS di Jakarta, nanti 15 terbawah akan kena mutasi, yang di atas akan di-promote.

Q: Bagaimana sikap / tindak lanjut dari Pemprov selama ini?

A: Pemprov sendiri memiliki aplikasi terpisah untuk menindaklanjuti laporan. Sampai saat ini, tindak lanjut yang dilakukan statistiknya sekitar 91%, langsung ditindak lanjuti dalam waktu 2 minggu.

Kalau persoalan sampah, 3 jam langsung ditindak lanjuti oleh pasukan orange, lalu kita bisa juga beri rating untuk tindak lanjut. Jika tindak lanjutnya asal-asalan kita bisa kasih bintang, kalau tidak puas bisa kasih bintang 1.