Ancaman dari perut gendut

367

Perut gendut bukan hanya berdampak pada penampilan fisik secara estetika, namun juga membawa risiko kesehatan yang cukup besar.

Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE, ahli endokrin metabolik dari Rumah Sakit Husada, mengatakan penderita obesitas sentral sangat rentan dengan risiko penyakit, yang pada akhirnya mengurangi harapan hidup. Inilah ancaman-ancaman yang bersembunyi di balik lipatan lemak di perut Anda.

> Penyakit Jantung
Perut buncit dikaitkan dengan penyakit jantung karena pada pria yang mengalami obesitas juga ditemukan kecenderungan hipertensi, tingkat trigliserida yang tinggi, dan penurunan kolesterol HDL (kolesterol baik). Ada bukti yang menunjukkan bahwa obesitas dapat menyebabkan penebalan dinding ventrikel kiri jantung. Penebalan dinding ini lama-kelamaan akan memicu masalah pada jantung. Kondisi tersebut bisa menyebabkan gangguan pada pompa jantung sehingga tidak dapat berfungsi normal.

Obesitas juga dapat berhubungan dengan sindrom metabolik, yaitu gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan menumpuknya sejumlah molekul lemak sehingga membuat arteri dan vena menjadi lebih sempit. Akibatnya, aliran darah dari dan ke jantung berkurang dan membuat organ tersebut bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. “Kondisi ini memicu terjadinya kondisi fatal yang disebut dengan serangan jantung,” kata Prof. Sidarta.

> Diabetes Mellitus Tipe 2
Kenaikan berat badan sebesar 5 hingga 10 kg dari berat badan yang sehat akan meningkatkan risiko Anda terkena diabetes mellitus tipe 2 sebesar dua kali lipat daripada orang yang tidak mengalami kelebihan berat badan. Lebih dari 80% penderita diabetes diketahui mengalami kelebihan berat badan ataupun obesitas. “Jadi jika Anda mulai bermasalah dengan berat badan yang terus naik, sebaiknya Anda segera berusaha menurunkannya. Jangan sampai berat badan Anda terlanjur tidak terkontrol dan semakin membengkak,” tegas Prof. Sidarta.

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan diabetes yang hanya diderita orang dewasa akibat kelebihan berat badan. Berbeda dengan penderita diabetes mellitus tipe 1, tubuh penderita diabetes mellitus tipe 2 masih bisa menghasilkan insulin. Meskipun demikian, jumlah insulin yang diproduksi tidak mencukupi karena ada komplikasi yang disebabkan oleh kondisi yang dipicu oleh obesitas, misalnya tingginya kadar lemak darah (baik kolesterol maupun trigliserida).

> Stroke
Karena terkait dengan pola makan yang tinggi lemak, hipertensi, dan kurangnya aktivitas fisik, obesitas dianggap sebagai faktor risiko sekunder yang dapat memicu stroke. Serangan stroke terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Kurangnya aliran darah dalam jaringan otak menyebabkan serangkaian reaksi biokimia yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Bila penderita bisa selamat dari kematian pun, risiko yang tidak kecil tetap mengancam, seperti kelumpuhan anggota badan, hilangnya sebagian ingatan, atau hilangnya kemampuan bicara.

> Kanker
Para ahli memperingatkan bahwa kegemukan mungkin bisa juga memicu kanker. Bukti spesifik yang menunjukkan bagaimana kegemukan bisa meningkatkan risiko kanker memang belum ditemukan. Tapi diduga hal itu berhubungan dengan peningkatan produksi estrogen dan hormon lain penyebab kanker usus. “Kegemukan akan membuat tubuh memproduksi lebih banyak hormon yang memicu pertumbuhan tumor. Orang yang memiliki perut buncit juga memiliki lebih banyak asam di dalam perutnya, sehingga bisa memicu kanker perut, intestine, atau esophagus,” ungkap Prof. Sidarta yang juga merupakan Ketua Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA).

> Fatty Liver
Penyakit lain yang bisa timbul akibat perut yang buncit atau obesitas adalah fatty liver. Fatty liver terjadi karena lemak yang berlebih menumpuk di dalam sel liver atau hati. Sebenarnya merupakan hal yang normal bila ada lemak di hati, asalkan jumlahnya tidak melebihi 10% dari berat hati itu sendiri. Kalau jumlahnya sudah melewati batas, itulah tanda-tanda hati mengalami perlemakan. Jika tidak segera ditangani, bisa mengakibatkan komplikasi yang serius. “Lama-lama liver akan diselimuti lemak. Biasanya kita tidak mengetahui kalau menderita fatty liver dan baru mengetahuinya saat melakukan medical check up lengkap rutin atau saat melakukan pemeriksaan karena penyakit lain,” jelas Prof. Sidarta. Liver merupakan organ tubuh yang berfungsi memproduksi enzim dan hormon, terlibat dalam proses metabolisme semua bahan yang masuk dalam tubuh, dan mengatur cairan tubuh. Oleh karena itu, gangguan kerja liver karena timbunan lemak bisa berakibat fatal. [teks Denny Hariandja | foto akkarbakkar.com]

Sumber: Fitnessformen.co.id

Brava Listeners, terus dengarkan Brava Radio di 103.8 FM atau bisa melalui streaming di sini.

Share it